Ummi

Ahmed Bukhatir - Mother(downloadmp3)

lasaufa a'udu ya ummi uqabilu ra'sakiz zaaki
abustuki kulla asswaqi wa arsyufu 'ithro yumnaaki
umarrigu fii tsaraa qadamaaiki khaddi hiina alqaaki
urawwit turba min dam'i suruuran fi muhayyaaki

fakam asharti min lailin liarquda mil'a ajfaani
wakam admadti min jaufin litarwiini bitahnaani
wayauma maridru la ansa dumuu'an minki kal mathari
wa ainan minki saahirotan takhafu alayya min khathari

wayauma wada'ina fajran wa maa aqsaahu min fajri
yuhaarul qaulu fi wasfil ladzi laaqaiti min hijri
wa qulti maqalatal laziltu mudzakkiron bihad dahri
muhaalun antara shadron ahanna alaika min shadri

bibirriki ya munaa umrii ilaahul kauni aushani
ridho'uki sirru taufiiqi wa hubbuki wamdu iimanii
wasidqu du'aikin farajat bihi kurabi wa ahzaani
widaaduki laa yusyathiruni bihi ahadun minal basyari

faanti nabdlu fi qalbii wa antil nuurun fii bashari
wa antil lahnu fii syafatii biwajhiki yanzali kadri
ilaaiki 'audu ya ummii ghadzan artaahu min safarii
wayabda'u 'ahdiyatsani wayazhul guznu bizzahrii




Indonesian Translate Version

ku akan segera kembali wahai ibu kan ku kecup kening suci mu
kan kutumpahkan segala rinduku dan ku cium wangimu mu
bersimpuh di kedua kakimu dan menempelkan pipiku pada kaki mu
kan kubasahi tanah dengan aimataku karena bahagia berdekatan denganmu lagi

berapa malam kau terjaga hanya agar aku tertidur pulas
dan berapa kau tak tidur hanya untuk memdongengkanku dan menina bobokan ku
dan pada waktu sakitku takkan ku lupa air matamu yang jatuh seperti hujan
dan mata itu yang tak pernah terpejam karena takut akan diriku

dan waktu perpisahan kita di pagi yang sangat berat dan menyiksa
kau terbata bata berkata karena sedih akan kepergianku
dan kau mengatakan sebuah kalimat yang tak pernah ku lupa
tak akan pernah kau temukan hati yang menyayangimu melebihi hatiku

dengan berbakti kepadamu wahai tumpuan hidupku Tuhan semesta berpesan kepadaku
keridlaanmu adalah rahasia kesuksesanku dan mencintaimu adalah tanda kesempurnaan imanku
dengan doa ikhlasmu hilanglah segala kesusahan dan kesedihanku
kasih sayangmu tak kan tertandingi oleh siapapun di dunia ini

engkau adalah detak jantungku engkau adalah cahaya mataku
engkau adalah buah bibirku dengan memandang wajahmu hilanglah segala kesusahanku
wahai ibu aku kan segera kembali besok, tuk beristirahat dari pengembaraanku
memulai hidup ku yang baru seperti bunga yang tumbuh di ranting2 pohon

SURAH AL-ASHR

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

وَالْعَصْرِ

إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ

إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

1. Demi waktu,

'Ashr berarti 'waktu, zaman', atau 'sore, mundurnya hari'. Ini merupakan pertanda dari awal kemunduran yang dimulai setelah segala sesuatu mencapai zenitnya dan telah sampai pada pencahayaan penuhnya.

2. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi.

Berdasarkan kenyataan bahwa kita menjalani waktu, ternyata manusia selalu dalam keadaan rugi. Dan berdasarkan kenyataan hidupnya, ternyata sifat rendah manusia itu merugikan. Khusr berarti 'kerugian, pengurangan'. Manusia memiliki sifat bingung, ia berayun dari satu situasi ke situasi lainnya, dari satu ketidakpuasan ke ketidakpuasan lainnya, dari satu ilusi ke ilusi lainnya. Kehidupannya tidak memuaskan karena ia tidak bisa beristirahat, atau memperoleh kedamaian dan ketenangan di dalamnya. Itulah keadaan normal dari kehidupan dunia ini, dengan fluktuasi-fluktuasinya yang meletihkan manusia. Baru saja satu situasi terkendali, situasi kacau baru yang tidak memberi harapan terjadi.

3. Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran.

Orang-orang ini dikecualikan karena mereka akan berusaha melebihi keadaan alamiahnya. Secara inheren, tidak ada yang salah apabila terjadi kemunduran pada kondisi manusia, sebagaimana digambarkan tadi. Karena, kemunduran itu mengikuti busur alamiah dari penciptaan. Kita harus ingat bahwa Allah mengatakan dalam sebuah hadis kudsi, 'Apa yang salah pada hamba-hamba-Ku? Mereka berdoa kepada-Ku, meminta kemudahan dan kesenangan di dunia ini, dan Aku tidak menciptakannya untuk itu!'

Begitu kita menyadari keadaan rugi ini maka kita dapat membebaskan diri dari situasi tersebut melalui ketaatan, tidak melalui serangan langsung terhadap kehidupan atau mencoba mengendalikan kehidupan. Hanya melalui ketaatan—bukan berarti melarikan diri dari masalah melainkan keyakinan bahwa yang ada di balik penciptaan benar-benar aman—akan diperoleh keuntungan yang mutlak. Jalan menuju kepercayaan itu adalah melalui keyakinan yang didasarkan pada ilmu (iman), dan amal saleh.

Termasuk dalam panggilan salat adalah ungkapan hayya 'ala al-falah (mari menuju keberhasilan). Panggilan ini mengajak kita untuk meraih keberhasilan yang timbul dari ketundukkan kepada dilema keadaan manusia yang merugi. Dari keadaan bingung dan rugi yang biasa, keberhasilan bisa terwujud pertama-tama melalui keyakinan batin bahwa kita bisa berhasil—bahwa kita dapat mengatasi keadaan—tidak melalui materi atau dengan menguasai, tapi dengan mengubah sikap kita. Kita tidak dapat mengubah sifat dunia, sebesar apa pun upaya kita. Kekuatan semata tidaklah dapat mengatasi keadaan kecuali dengan mengubah arah batin, yaitu mewujudkan iman ke dalam amal saleh.

Washa berarti 'memperingatkan, melarang, memerintahkan, menasihati'. Kata benda turunan, washiyah berarti 'kemauan', yakni perintah yang terakhir dan terpenting yang ditinggalkan seseorang. Kata kerja di sini diungkapkan dalam bentuk jamak karena berkenaan dengan manusia. Implikasinya adalah bahwa guna mengatasi keadaan normal keduniawian maka kita harus melibatkan orang lain; masalah keduniawian tidak dapat diselesaikan melalui pengasingan diri. Juga berarti bahwa di antara orang lain dalam kesatuan sosial ada ukuran yang dapat kita jadikan sebagai patokan untuk mengukur diri. Jika kita hidup bersama sekelompok orang yang berorientasi pada kebenaran dan saling memikirkan, maka kedustaan dan kemunafikan kita akan terungkap.

Fondasi dari semua ini adalah shabr, 'kesabaran', karena Allah adalah Yang Mahasabar, al-Shabur. Allah berada di luar waktu. Kesabaran berarti menyusutkan waktu. Umpamanya, jika kita ingin memakan buah mentah sebelum waktunya dan kita tahu harus menunggu tujuh hari sebelunn buah itu siap dimakan, maka kita siap untuk menunggu. Yang harus kita lakukan adalah membekukan waktu seminggu menjadi 'waktu nol'. (Kita menunggu sampai waktu yang seminggu itu habis dijalani—peny.).
Surah ini dimulai dengan 'ashr dan diakhiri dengan shabr dan menunjukkan kepada kita bahwa waktu berasal dari Allah, dari Yang Tak Berwaktu. Surah ini mulai dengan apa yang kita alami, berbagai peristiwa yang berubah-ubah dan bersifat siklis, dan berakhir dengan fondasi, yang tak tergoyahkan dan tak berubah: shabr (kesabaran). Ketika Sembilan Puluh Sembilan Nama dituliskan atau dibacakan, maka Nama al-Shabur selalu yang terakhir, karena Sifat itu merupakan fondasi untuk penciptaan.

Anak Kecil Yang Takut Api Neraka

Dalam sebuah riwayat menyatakan bahawa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia terpandang seorang anak kecil sedang mengambil wudhu' sambil menangis.
Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"
Maka berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik saya telah membaca ayat al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka."

Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka."
Berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik, pakcik adalah orang yang berakal, tidakkah pakcik lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa."

Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template